Krisna Febrianto’s Blog

Entries categorized as ‘Kisah Teladan’

Butterfly Lesson’s

31 Juli 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

One day, Emerges small gap at a chrysalis. A man sits and pays attention to the butterfly candidate to struggle firm during a hours to push the body exit through the small hole.

Then, seems to the effort is useless, desists and there is no meaning development.

Impressing seen the effort has reached one points , where cannot having continuation.

Hence, The man sets mind on assists the butterfly.

He takes a scissors and opens the chrysalis. Then the butterfly exit considerably,its easy to

But what is going? The butterfly have imperfect body. The body is small and the wing doesn’t grow.

The man remain to pays attention and hopes, not old again, the wing will be open, big and rounds into strong to be able to support itself.

All expected by the man not happened !

In reality, the butterfly instead finishs all the life creeping with the weak body and wing folded.

The butterfly have never can fly

The Butterfly

The Butterfly

What which the man does, with all kindness and intention of the good, He have never understood, that struggle to release butterfly body from chrysalis by the way of releasing all dilution from the body is a process required, so that the wing can grow and ready for flying after exit from the chrysalis, matching with the one which have been determined by God.

Often, Struggle is thing that we require in this life

If The God enables we to pass this life without temptation, this thing will make we are light. We will not as strong as like we will expect, and will never fly like the butterfly.

We ask strength and the God gives us difficulty for we face and makes we to become strong.

We ask wisdom and the God gives us a problems which we must break.

We ask prosperity and the God gives brain and strength to work.

We ask bravery and the God gives us barricade for we face.

We ask love and the God gives people who to require our help in facing difficulty of the man

We ask help and the God gives us opportunity

We don’t receive does we wish, but we receive does we require. “

Experiences life without fear, faces all problems and confidence that we can overcome it all.

Disadur dari berbagai sumber, dengan sedikit perubahan dan dialihbhasakan…

Kategori: Kisah Teladan

Tempayan Retak dan Tukang Air

14 Juli 2008 · & Komentar

Waktu itu saya mengikuti kegiatan “Self Empowering Training Program” yang diselenggarakan oleh Djarum Bhakti Pendidikan, di Hotel Horison Bandung pada tanggal 26 – 27 Maret 2008 yang telah berlalu. Saya mendapatkan sebuah cerita dari seorang Psikolog Sukmayanti Ranadireksa, M.Psi.(Instruktur OQ Modelling school) namanya. Kisah itu menginspirasi akan hidup saya yang terdapat kekurangan, yang justru itu bisa dijadikan sebagi senjata oleh saya pribadi.
Dari cerita Psikolog itu saya mencoba menuangkan kembali dalam rangkum sebuah tulisan berikut ini, mudah-mudahan bisa menginspirasi…

Seorang tukang air India memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung suatu pikulan, yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang utuh itu selalu dapat membawa air penuh, setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan yang retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh.

Selama beberapa tahun hal itu terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan untuh merasa bangga karena dapat menunaikan pekerjaannya dengan sempurna. Namun, si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberi setengah dari porsi yang seharusnya dapat ia berikan.

Karena merasa tertekan oleh kegagalan pahit itu, tempayan retak mengadu pada si tukang air, “Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya mohon maaf kepadamu wahai tuanku”
“Kenapa?tanya si tukar air, kenapa kamu merasa malu”
“Selama ini saya hanya mampu membawa setengah porsi air dari yang seharusnya saya dapatkan karena adanya retakan pada sisi saya sehingga membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu , saya telah membuatmu rugi” kata tempayan itu.
Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya ia berkata ,”Jika kita kembali kerumah majikan besok , aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan”

Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit tehibur. Tapi ia kembali mengeluh dan meminta maaf atas kegagalannya.

Si tukang air berkata kepada tempayan retak itu, “Apakah kamu memperhatikan adanya bunga di sepanjang jalan di sisimu, tetapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang utuh. Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya.
Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah untuk menghias meja majikan kita.Tanpa kamu, sebagaimana kamu ada kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang”

Sejak saat itu, tempayan retak pun tidak merasa sedih lagi, ia bersyukur dengan apa yang ia miliki.

Setiap dari kita memiliki cacat dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau dan berusaha Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk menghias-Nya. Dimata Tuhan yang Maha Bijaksana, semua itu tidak akan terbuang percuma, jangan takut akan kekurangan yang ada pada diri kita.

Kategori: Kisah Teladan