Beranda > Uncategorized > Pria dan Etika

Pria dan Etika

Sejarah telah menunjukan bahwa pria yang berprestasi sekalipun kadang membuat kesalahan yang berujung malu di masyarakat. Seperti contoh ini, saat kunjungan makan malam di Tokyo George W. Bush muntah dihadapan Perdana Menteri Jepang. Suatu kebetulan? Mungkin tapi alangkah malangnya.

Terkadang, saat kumpul dengan teman-teman atau mengikuti acara formal, kita sering melakukan hal-hal diluar etika yang berlaku, seperti sendawa yang keras di depan umum sambil menggeliat, adalah hal yang memalukan (etika orang jepang, lebih baik kentut (buang angin melalui anus) dari pada sendawa di muka umum pada saat makan, mereka yang mengetahuinya akan langsung berhenti dan meninggalkan meja makan). Mengupil sembarangan dengan sengaja dimuka umum itu juga bukan hal yang wajar (sebaiknya aktivitas itu dilakukan di kamar kecil), berkata jorok pada saat makan juga menggangu selera sesorang untuk makan, pasti mual dan muntah mendengarnya (Stop don’t speak it up!)

Bagi beberapa orang aturan etiket mungkin terlihat kuno, kaku bahkan dianggap tidak perlu. Sebaliknya fakta mengatakan bahwa aturan-aturan tersebut dapat berperan sebagi kontrol sosial yang bisa mengurangi munculnya kejadian buruk di masyarakat.

Sebagai Pria perlu memahami dan menaati aturan sosial yang ada untuk meyesuaikan diri dalam berbagai ragam budaya. Cara memperkenalkan diri dan bertingkah laku dalam segala situasi sosial menggambarkan kesadaran diri dan tingkat pengalaman. Sesungguhnya pengalaman itu bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, melainkan sebuah pemahaman alamiah mengenai tingkah laku sosial yang diterima.

Tentu saja petunjuk-petunjuk bertingkah laku tidak selalu dibutuhkan dalam setiap kesempatan. Yang terpenting adalah harus tahu peraturannya sebelum membuat pelanggaran. Tetapi, takdir buruk bisa datang pada sewaktu-waktu dan kekacauan yang tidak terlihat bisa menjatuhkan martabat. Jika jatuh dari tangga contohnya, mungkin akan menutupinya dengan sedikit gaya dan tetap percaya diri.

Ketika kita bergabung dalam acara formal. Tugas kita sebagai tamu undangan adalah bersikap mandiri, mencari teman sebanyak-banyaknya dan meramaikan suasana. Jika merasa terintimidasi atau malu-malu jadikanlah itu sebagai senjata untuk bersosialisasi , jika bisa memainkannya dengan baik akan membuat kita tampak mengesankan.

Bergaul dengan baik adalah berkeliling sambil menjaga sesuatu tetap terkontrol. Pertahankan sikap ramah sambil mengikuti aturan bertingkah laku berikut ini

  • Selalu lebih baik berbusana longgar dari pada ketat, tentunya disesuaikan dengan dresscode yang berlaku, jika tidak mencantumkan dresscode pergilah dengan warna hita

  • Tidak sopan jika datang terlambat begitu juga terlalu awal, 10-15 menit setelah waktu yang ditentukan adalah waktu ideal untuk memenuhi undangan for
  • Bersikaplah sopan, jangan terlalu akrab dengan orang lain yang baru kenal dalam waktu singkat

  • Berusahalah mandiri, dan memanfaatkan kesempatan dengan berkenalan dengan orang baru, seperti mengucapkan “Bagaimana Kabar Saudara?”, “senang berkenalan dengan Anda”.

  • Jika tidak memahami percakapan yang sedang berlangsung, diam, dengarkan, dan tersenyumlah
  • Jangan menggangu orang lain dalam acara tertentu
  • Pastikan kita sudah pergi sebelum pertemuan itu usai, kecuali ada kepentingan setelahnya
  • Jika merasa tidak nyaman dalam acara itu, pergilah
  • Untuk bungkus makanan atau biji buah , bungkuslah dengan serbet cocktail , teruslah bawa sampai menemukan tepat yang tepat untuk membuangnya
Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: