Beranda > Tutorial > Saatnya Berintegrasi Pada Software Non Proprietary di Lingkungan Civitas Akademika

Saatnya Berintegrasi Pada Software Non Proprietary di Lingkungan Civitas Akademika

Persaingan antara software berbasis Open Source dan Non Open Source semakin tinggi. Gerakan Open Source dengan konsep bebas, meski baru mulai populer pada beberapa waktu lalu mulai memberikan alternatif pilihan software kepada semua orang. Kini hampir semua software propietary (Software Non Open Source) memiliki padanannya pada sistem Open Source. Bagi pengambil keputusan untuk meggunakan software tentu saja persaingan ini memberikan pilihan baru, namun di sisi lain tentu saja memberikan masalah dalam hal pemilihan yang tepat untuk organisasi. Total Cost of Ownership dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam menentukan pilihan implementasi software pada sebuah civitas akademika.

L. Chandra Mohan, Direktur Microsoft Indonesia, mengungkapkan bahwa nilai nominal yang dibayar oleh perguruan tinggi di Institut Teknologi Surabaya sekitar USD 1000/tahun. Penghargaan terhadap hak cipta itu pula yang dikemukakan Prof. DR. Sofyan Effendi, rektor UGM, terhadap kerja sama kampus dengan Microsoft. Beranjak dari sesuatu yang menjadi landasan positif penghargaan terhadap HaKI, mayoritas pengguna komputer di Indonesia, bahwa selama ini sebagian besar produk yang digunakan berasal dari sumber ilegal. Mau atau tidak, untuk menjadi bagian dari masyarakat, menghargai HaKI sebagai upaya kita menghargai jerih payah orang lain harus dilakukan.

Dilihat dari pemakai komputer di perguruan tinggi, terdapat tiga kelompok besar, yakni: staf pengajar (dosen) dan grup/bidang keahlian yang ditangani, staf administrasi, dan mahasiswa. Sekalipun banyak perguruan tinggi ingin melakukan integrasi komputerisasi yang dapat menghubungkan fungsi ketiganya, namun sampai saat sekarang yang sudah terealisasi baru berupa irisan kepentingan. Misalnya staf pengajar yang mengelola bidang keahlian tertentu memiliki kepentingan dengan laboratorium mahasiswa pada bidang tersebut, sehingga sumber daya yang tersedia di tempat tersebut dapat digunakan bersama. Dari ketiga kelompok tersebut, staf pengajar dan mahasiswa merupakan sumber daya utama yang menjadi motor aktif kegiatan di perguruan tinggi, termasuk aktivitas TI. Dengan demikian, apabila dikehendaki perubahan pada kebijakan TI, maka kedua kelompok pemakai ini lebih dapat diharapkan untuk berpartisipasi aktif

Bagaimana halnya dengan perangkat lunak Open Source yang akhir-akhir ini bertambah marak diterima sebagai alternatif di beberapa negara lain? Setelah Malaysia melakukan inisiatif menggunakan produk Open Source dan sinyalemen akan kekuatan Jepang, Cina, dan Korea Selatan untuk menyusun sistem operasi baru, Open Source merupakan kemungkinan alternatif tersendiri.

Jika dilihat dari contoh negara-negara yang mulai mengadopsi Open Source, tampaklah bahwa pengadaan perangkat lunak bukan semata-mata persoalan dana. Keleluasaan dalam memilih alternatif dan keterhubungan antar komponen merupakan hal penting yang seringkali tidak bisa dinilai begitu saja dengan uang. Lebih-lebih jika dikaitkan dengan peran perguruan tinggi yang mengarahkan sumber daya manusia di dalamnya, maka faktor sikap manusia yang mengoperasikan perangkat lunak itu merupakan nilai mahal yang perlu dipertimbangkan. Salah satu alasan yang dikemukakan Christine Strobl, anggota dewan kota yang memilih migrasi ke Linux, “Filosofi Microsoft adalah mengubah perangkat lunak kami setiap lima tahun. Dengan Open Source, kami dimungkinkan untuk menyusun kebijakan sendiri waktu penggantian perangkat lunak kami”.

Membicarakan urusan perguruan tinggi semata-mata dilihat nilai profitnya tentu saja kurang bijak. Apalagi jika diingat fungsi perguruan tinggi di Indonesia yang mengemban fungsi perbaikan sosial yang kuat. Open Source adalah sebuah gerakan yang fokus utamanya tidak sekadar memakai barang gratis,alangkah tidak adil jika hanya diartikan seperti itu, melainkan kolaborasi dalam skala besar antara semua orang yang terlibat dengan perangkat lunak tersebut. Dari perancang, pembuat spesifikasi, pemrogram, sampai dengan pemakai akhir. Keindahan Open Source adalah semua orang punya kans untuk berkontribusi. Dalam Stallman 2004 ada beberapa kategori sehingga sebuah software dapat di katakan Free, yaitu:

  1. Kebebasan menjalankan program untuk apapun tujuannya (Kebebasan 0)
  2. Kebebasan untuk mempelajari bagaimana program itu bekerja serta dapat disesuaikan dengan kebutuhan kita (Kebebasan 1). Akses terhadap kode program merupakan prasyarat
  3. Kebebasan untuk menyebarluaskan kembali hasil salinan perangkat lunak tersebut, sehingga dapat membantu seasma kita (Kebebasan 2)
  4. Kebebasan untuk meningkatkan kinerja program, dan dapat menyebarkannya ke khalayak umum sehingga semua dapat menikmati keuntungannya (Kebebasan 3)

Bagi perguruan tinggi yang menjadi motor perubahan dari sisi intelektual bagi masyarakat, tentunya nilai tambah dari perangkat lunak Open Source terletak pada sikap dan motivasi terhadapnya. Bahkan seandainya pun organisasi tersebut sekadar menggunakan dan melakukan pengorganisasian dengan baik sehingga dapat menjadi rujukan bagi pemakai lain, itu sudah bernilai banyak bagi komunitas Open Source.Pertimbangan penting lain adalah motivasi utama di belakang produk-produk Open Source. Selain umumnya berbasis UNIX, yang memang pada awalnya tumbuh di lingkungan akademis, produk Open Source dibuat berdasarkan kompromi konsep yang disodorkan akademisi dan brainstorming usulan kondisi praktisnya. Sebagai misal, di forum semacam Kernel Traffic ramai dibahas teknik-teknik yang akan dipilih digunakan untuk implementasi pembuatan kernel dan modul-modulnya. Kalau kita mau kompromi dan bertahap pada proses perubahan ini, gerakan pemakaian perangkat lunak Open Source dapat dimulai dari kelompok akademis, yakni staf pengajar dan peneliti di kampus, dan mahasiswa. Selain mereka relatif lebih melek komputer, sudah saatnya pula sikap kelompok akademis ini lebih terbuka terhadap alternatif yang sebenarnya lebih terhormat untuk lingkungan pendidikan. Kita mendengar jargon agen perubahan (agent of change) yang melekat pada perguruan tinggi, jadi tentunya menjadikan kesempatan alternatif ini sebagai pilihan juga sejalan dengan label agen perubahan itu sendiri.

Dengan bertambahnya jumlah civitas akademika yang mulai peduli dengan perangkat lunak Open Source, pihak pengelola kampus dapat mulai mengorganisasi sumber daya ini guna mengatasi persoalan yang dapat muncul di dalam kampus atau menyusun rencana jangka berikutnya. Apabila dilakukan koordinasi dengan baik, tidak mustahil dukungan teknis di dalam kampus ini punya kualitas yang mampu bersaing dengan vendor komersial dan dapat dijadikan layanan yang dijual untuk produk Open Source di Indonesia. Dengan perkataan lain, bukan hanya kampus tidak merengek lagi perihal Open Source, melainkan malah dapat dijadikan peluang untuk menghidupkan aktivitas TI di kampus.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: